Pengertian filsafat bahasa (Analitik) dan perkembangannya
Beberapa pengertian tentang filsafat analitik secara
terminologi yaitu:
Menurut Rudolph Carnap, filsafat
analitik adalah pengungkapan secara sistematik tentang syntax logis (struktur
gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa
ilmu yang semata-mata formal. Roger jones menjelaskan arti filsafat analitik
bahwa baginya tindak menganalisis berarti tindak memecah sesuatu ke dalam
bagian-bagiannya. Tepat bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik.
Didalam kamus populer filsafat,
filsafat analitik adalah aliran dalam filsafat yang berpangkal pada lingkaran
Wina. filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau metafisik.
Juga ingin menyerupai ilmu-ilmu alam yang empirik, sehingga kriteria yang
berlaku dalam ilmu elsakta juga harus dapat diterapkan pada filsafat (misalnya
harus dapat dibuktikan dengan nyata, istilah-istilah yang dipakai harus berarti
tunggal, jadi menolak kemungkinan adanya analogi).
Filsafat analitik adalah suatu
gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang
memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa
pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan, atau
bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan
singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan. Yang
pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi baik yang linguistik
atau nonlinguistik nyata atau yang konstektual. Filsafat analitik sendiri,
secara umum, hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan
menggunakan analisis bahasa.
Bilamana dikaji perkembangan
filsafat setidaknya terdapat empat fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak
munculnya pemikiran yang pertama sampai dewasa ini, yang menghiasi panggung
sejarah umat manusia. Pertama, kosmosentris yaitu fase
pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek pemikiran dan wacana
filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. kedua, teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan
Tuhan sebagai pusat pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad
pertengahan. Ketiga, antroposentris yaitu
fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek wacana filsafat,
hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern. Keempat, logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang
meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini
berkembang setelah abad modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini
ditandai dengan aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa
merupakan wahana pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.
Perhatian filsafat terhadap bahasa
sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu
ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam
semesta. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Seluruh
minat herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju bahwa di
atas dunia fenomenal ini, terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih
tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Meskipun begitu
ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia mencari prinsip perubahan.
Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda
material. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah
dunia material melainkan dunia manusiawi, dan dalam dunia manusiawi ini
kemampuan bicara menduduki tempat yang sentral. Dalam pengertian inilah maka
medium Herakleitos bahwa “kata” (logos) bukan semata-mata gejala antropologi.
Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan
“jangan dengar aku”, “dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua benda
itu satu”. Demikian sehingga pemikiran yunani awal bergeser dari filsafat alam
kepada filsafat bahasa yang meletakkan sebagai objek kajian filsafat.
Filsafat bahasa mulai berkembang
pada abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa.
Noam Chomskylah yang pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin
linguistic. Grice dan Quinelah yang mengangkat meaning sebagai intensionalitas
si pembicara dan meaning dalam konteks kejadiannya. Davidson lebih lanjut
mengetengahkan tentang struktur semantik, untuk memahami bahasa, termasuk
unsur-unsurnya dan mengembangkan tentang interpretasi yang dapat berbeda antara
si pembicara dan yang dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep
tentang referensi. Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga mengandung
referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang ditampilkan.
Filsafat abad modern memberikan
dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. Peranan
rasio, indra, dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan
pengetahuan manusia. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan
otoritas akal, aliran empirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam
pengenalan pengetahuan manusia serta aliran imaterialisme dan kritisme Immanuel
kant menjadi sangat penting sekali pengaruhnya terhadap tumbuhnya filsafat
analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realistas segala sesuatu melalui
ungkapan bahasa.
Bertrand Russel - Filsafat Analitik
Bertrand Russel (1872-1970) lahir dari keluarga bangsawan. Pada umur 2 dan 4
tahun berturut-turut ia kehilangan ibu dan ayahnya. Ia dibesarkan di rumah
orang tua ayahnya. Di Cambrige, ia belajar ilmu pasti dan filsafat, antara lain
pada A. Whitehead. Kita sudah mendengar bahwa George Moore termasuk sahabatnya.
Selama hidupnya yang amat panjang, ia menulis banyak sekali, 71 buku dan
brosur) tentang berbagai pokok, antara lain filsafat, masalah-masalah moral,
pendidikan, sejarah, agama, dan politik. Pada tahun 1950 ia memperoleh hadiah
Nobel bidang sastra. Namanya menjadi masyhur di seluruh dunia terutama karena
pendapat-pendapatnya yang nonkonformistis tentang moral dan politik. Dari sudut
ilmiah jasanya yang terbesar terdapat di bidang logaika Matematis.
Pemikiran filosofis Bertrand Russell yaitu ia mencoba menggabungkan logika Frege tersebut
dengan empirisme yang sebelumnya telah dirumskan oleh David Hume. Bagi Russell,
dunia terdiri dari fakta-fakta atomis (atomic facts). Dalam konteks ini,
kalimat-kalimat barulah bisa disebut sebagai kalimat bermakna, jika kalimat
tersebut berkorespondensi langsung dengan fakta-fakta atomik. Ludwig
Wittgenstein (1889-1951) juga nantinya banyak dipengaruhi oleh Russell. Dia
sendiri mempengaruhi Lingkaran Wina dan membantu membentuk aliran positivisme
logis pada dekade 1920-30 an.
Jalan pemikiran Russell ini
menawarkan jalan keluar untuk aliran atomisme logik. Atomisme logik berpendapat bahwa bahasa keseharian itu banyak menampilkan kekaburan arti.
Russerl menawarkan dasar-dasar logico-epistemologik untuk bahasa. Russell mengetengahkan tentang fakta,
bentuk logika, dan bahasa ideal. Dia mengetengahkan prinsip dasarnya, yaitu:
ada isomorphisme (kesepadanan) antara fakta dengan bahasa, dan dunia ini
merupakan totalitas fakta-fakta, bukan benda. Fakta dalam pemikiran Russerl
merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda.
Ia berpendapat bahwa grammar dari
bahasa yang biasa kita gunakan sebenarnya tidak tepat. Baginya, dunia terdiri
dari fakta-fakta atomis, dan hanya bahasa-bahasa yang mengacu pada fakta atomis
inilah yang dapat disebut sebagai bahasa yang sahih. Oleh karena itu, ia
berpendapat bahwa salah satu tugas terpenting filsafat adalah menganalisis
proposisi-proposisi bahasa untuk menguji kesahihan ‘forma logis’ dari proposisi
tersebut. untuk itu tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan
sintesis logis.
Berdasarkan prinsip-prinsip
pemikiran itulah maka Russerl menekankan bahwa konsep atomismenya tidak
didasarkan pada mefisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena
menurutnya logika adalah yang paling dasar dalam filsafat, oleh karena itu
pemikiran Russell dinamakan ‘atomisme logis’.
Gottlob Frege - Filsafat Analitik
Para filosof analitik berpendapat bahwa filsuf Jerman, Gottlob Frege
(1848-1925), adalah filosof terpenting setelah Immanuel Kant. Frege hendak
merumuskan logika yang rigorus sebagai metode berfilsafatnya.
Dengan kata lain, filsafat itu sendiri pada intinya adalah logika.
Dalam hal ini, ia dipengaruhi filsafat analitik, filsafat-logika, dan
filsafat bahasa. Frege berpendapat bahwa dasar yang kokoh bagi matematika dapat
‘diamankan’ melalui logika dan analisis yang ketat terhadap logika dasar
kalimat-kalimat. Cara itu juga bisa menentukan tingkat kebenaran suatu pernyataan.
Akar-akar analisis linguistik ditanam di lahan yang disiangi oleh seorang
matematikawan bernama G. Frege, ia memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang
implikasinya masih dalam proses penanganan oleh filosof-filosof kontemporer. Ia
menganggap bahwa logika sebetulnya bisa direduksi ke dalam matematika, dan
yakin bahwa bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah
deduktif yang diungkapkan dengan gamblang. Salah satu idenya yang paling
berpengaruh adalah membuat perbedaan antara “arti” (sense) proposisi dan
“acuan” (reference)-nya, dengan mengetengahkan bahwa proposisi memiliki makna
hanya apabila mempunyai arti dan acuan.
Frege juga menyusun notasi baru yang memunkinkan terekpresikannya “penentu
kuantitas” (kata-kata seperti “semua”, “beberapa” dan sebagainya) dalam bentuk
simbol-simbol. Ia berharap para filosof bisa menggunakan notasi ini untuk
menyempurnakan bentuk logis argumen mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk
jauh lebih dekat, daripada waktu-waktu sebelumnya, dengan ide pembuatan
filsafat menjadi ilmu yang ketat.
Filsafat Politik
Filsafat politik telah lahir sejak manusia mulai
menyadari bahwa tata sosial kehidupan bersama bukanlah sesuatu yang terberi
secara alamiah, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terbuka untuk perubahan.
Oleh karenaitu, tata politik merupakan produk budaya dan memerlukan justifikasi
filosofis untuk memepertahankannya. Filsafat politik juga seringkali muncul
sebagai tanggapan terhadap situasi krisis zamannya.
Pada era pertengahan, tema relasi antara negara dan
agama menjadi tema utama filsafat politik. Pada era modern,tema pertentangan
antara kekuasaan absolut dan kekuasaan raja yang dibatasi oleh konstitusi
menjadi tema utama refleksi filsafat politik.Menurut Plato, filsafat politik
adalah upaya untuk membahas dan menguraikan berbagai segi kehidupan manusia
dalam hubungannya dengan negara. Ia menawarkan konsep pemikiran tentang manusia
dan negara yang baik dan ia juga mempersoalkan cara yang harus ditempuh untuk
mewujudkan.
Konsep pemikiran Bagi Plato, manusia dan negara memiliki persamaan hakiki. Oleh
karena itu, apabila manusia baik negara pun baik dan apabila manusia buruk negara
pun buruk. Apabila negara buruk berarti manusianya juga buruk, artinya negara
adalah cerminan mansia yang menjadi warganya (J.H. Rapar, 2001). Filsafat
politik memberikan penjelasan yang berdasarkan rasio dilihat adanya hubungan
antara sifat dan hakikat dari alam semesta (universe) dengansifat dan hakikat
kehidupan politik di dunia fana ini.
Pokok pikiran dari filsafat politik adalah
bahwa persoalan-persoalan yang menyangkut alam semesta seperti
metafisika dan epistemologi harus dipecahkan lebih dahulu sebelum persoalan politik
yang sehari-hari dapat ditanggulangi.
Contoh: Keadilan merupakan hakikat dari alam semesta
sekaligus merupakan pedoman untuk mencapai kehidupan yang baik yang dicita
- citakan oleh Plato. Filsafat politik erat kaitannya dengan etika
dan filsafat politik. Dalam pembahasan filsafat politik dikaitkan dengan
filsafat politik pendidikan.
Filsafat Politik dan Kesadaran
Filsafat
politik dan filsafat kesadaran berdiri di dalam bayang-bayang definisi filsafat
di atas. Filsafat politik adalah cabang dari filsafat yang hendak memahami
hakekat dari kehidupan politik manusia, dan memberikan arahan tentang cara
menciptakan politik yang mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi semua.
Filsafat kesadaran adalah cabang filsafat yang hendak memahami hakekat dari
kesadaran manusia. Keduanya menggunakan metode yang bersifat logis, kritis,
rasional, ontologis dan sistematis.
Filsafat politik
hendak menemukan ide dan prinsip yang memungkinkan adanya masyarakat, atau
komunitas, dalam segala bentuknya. Inilah yang disebut sebagai pendekatan
deskriptif di dalam filsafat politik. Pendekatan ini nantinya berkembang
menjadi ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, ekonomi, politik, hukum dan ilmu
budaya. Namun, filsafat politik tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga
normatif: ia menawarkan prinsip-prinsip yang memungkinkan suatu komunitas
mencapai perdamaian, keadilan dan kemakmuran bersama.
Dua prinsip yang
penting di dalam filsafat politik, yakni keadilan dan kesetaraan. Ada beragam
arti dari konsep keadilan dan kesetaraan. Filsafat politik hendak mengupas dan
mengembangkan beragam arti tersebut, dan melihat kemungkinan penerapannya di
berbagai keadaan. Dua prinsip ini menjadi nyata, ketika ia menjadi prinsip
utama di dalam berbagai institusi publik yang menata keadaan politik sebuah
komunitas.
Filsafat
politik juga memiliki ciri kritis. Ia tidak pernah puas dengan satu jawaban.
Tidak ada jawaban final. Yang ada adalah proses diskusi terus menerus, sehingga
pandangannya bisa terus menyesuaikan dengan keadaan dunia yang terus berubah
dengan cepat sekarang ini.
Corak Filsafat Bangsa Yunani
Jika dilihat
kebelakang corak filsafat bangsa Yunani, maka sudah barang tentu bukan melihat
keruntuhan Yunani yang telah lama ditinggalkan. Di sini yang akan
ditinjau dan dipahami serta yang dihadapi adalah unsur-unsur yang sebagian
besar menjadi fondasi bangunan untuk kultur modern. Contohnya adalah jika
dirunut jalan pikiran yang logis, maka mau tak mau adalah meneruskan tradisi
yang diwarisi dari orang Yunani. Bertolak dari itu, apabila diamati secara seksama,
maka betapa banyak kategori pikiran yang dipakainya sekarang. Oleh sebab itu
dengan tidak disadarinya bahwa perkembangan sekarang ini berasal dari
kebudayaan Yunani atau setidak tidaknya orang Yunani memberikan landasannya.
Untuk seorang filsuf atau ahli di bidang filsafat,
sudah tentu banyak alasan untuk menaruh perhatian kepada filsafat Yunani.
Ditinjau secara kronologis adanya filsafat (filsafat Barat) seluruhnya, maka era
filsafat purba jaman Yunani mempunyai kedudukan istimewa, sebab di Yunani
ditemui munculnya filsafat itu sendiri. Jadi mempelajari filsafat Yunani
artinya menyaksikan kelahiran filsafat itu sendiri, sehingga tidak ada
pemahaman filsafat yang lebih ideal kecuali studi tentang pertumbuhan pemikiran
filsafat di negeri Yunani. Hal ini pernah
dikatakan oleh Alfred Whitehead seorang filsuf modern mengenai Plato sebagai
berikut: “All Western philosophy is but a series of footnes to Plato”.
Bila dilihat secara harafiah tampaknya kata kata ini sangat melebih lebihkan
pada diri Plato, namun sebenarnya tidak, sebab pada Plato dan umumnya dalam
seluruh filsafat Yunani tetap berjumpa dengan problem problem filsafat yang
masih dipersoalkan sampai masa kini. Tema-tema filsafat Yunani,
seperti “ada”, “menjadi”, “substansi”, “ruang”, “waktu”, “kebenaran”, “jiwa”,
“pengenalan”, dan “Tuhan” merupakan tema-tema pula bagi filsafat secara
umum.Begitu pula para filsuf Yunani satu kali untuk selamanya menjuruskan
pemikiran filsafat selanjutnya, sehingga filsafat sekarang masih tetap bergumul
dengan pertanyaan-pertanyaan yang untuk pertama kalinya dikemukakan dalam
kalangan mereka.
Bicara tentang
filsafat ciptaan Yunani tampaknya tidak boleh menghindar bahwa sebenarnya mengalami
banyak kesulitan. Banyak orang mengatakan bahwa pembicaraan periode filsafat
purba Yunani ini adalah “The early Greek period is more a field for
fancy than for fact”. Jadi kesulitan kesulitannya berasal dari
keadaan sumber, karena pikiran dari para filsufnya di mana disimpan untuk bisa
ditemukan dan dipelajarinya. Di samping itu, ada juga beberapa filsuf Yunani
yang tidak pernah menulis satu barispun, misalnya Thales, Pythagoras, dan
Sokrates. Sehingga untuk mengetahui jalan pikiran mereka terpaksa harus percaya
dari kesaksian orang lain yang berbicara tentang ajaran mereka, seperti percaya
pada tulisan dan pembicaraan para murid ataupun teman sejawatnya. Selain itu, ada
filsuf filsuf yang meskipun menulis satu karangan atau lebih, namun tulisan itu
sudah hilang entah di mana, sehingga harus merasa puas dengan beberapa fragmen
yang telah dikutip oleh para pengarang lain dengan kesaksian isi ajaran mereka.
Disinilah problem muncul, yaitu kesaksian bagaimana yang harus dipercaya
tentang pikiran filsuf dimaksud. Problem tentang sumber atau refrensi terutama
muncul apabila yang dibicarakan adalah para filsuf yang mendahului Sokrates dan
karenanya filsufnya pun lalu dijuluki “filsuf filsuf pra-Sokratik”. Meskipun
banyak ditemui banyak kesulitan, namun masih bisa dibilang beruntung, karena
mendapati sumber sumber yang jauh lebih memuaskan untuk ketiga karya filsuf
Yunani yang dibilang besar, yaitu Plato, Aristoteles, dan Plotinus.
Langganan:
Postingan (Atom)
Selasa, 27 Desember 2016
Senin, 26 Desember 2016
Pengertian filsafat bahasa (Analitik) dan perkembangannya
Beberapa pengertian tentang filsafat analitik secara
terminologi yaitu:
Menurut Rudolph Carnap, filsafat
analitik adalah pengungkapan secara sistematik tentang syntax logis (struktur
gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa
ilmu yang semata-mata formal. Roger jones menjelaskan arti filsafat analitik
bahwa baginya tindak menganalisis berarti tindak memecah sesuatu ke dalam
bagian-bagiannya. Tepat bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik.
Didalam kamus populer filsafat,
filsafat analitik adalah aliran dalam filsafat yang berpangkal pada lingkaran
Wina. filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau metafisik.
Juga ingin menyerupai ilmu-ilmu alam yang empirik, sehingga kriteria yang
berlaku dalam ilmu elsakta juga harus dapat diterapkan pada filsafat (misalnya
harus dapat dibuktikan dengan nyata, istilah-istilah yang dipakai harus berarti
tunggal, jadi menolak kemungkinan adanya analogi).
Filsafat analitik adalah suatu
gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang
memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa
pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan, atau
bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan
singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan. Yang
pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi baik yang linguistik
atau nonlinguistik nyata atau yang konstektual. Filsafat analitik sendiri,
secara umum, hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan
menggunakan analisis bahasa.
Bilamana dikaji perkembangan
filsafat setidaknya terdapat empat fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak
munculnya pemikiran yang pertama sampai dewasa ini, yang menghiasi panggung
sejarah umat manusia. Pertama, kosmosentris yaitu fase
pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek pemikiran dan wacana
filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. kedua, teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan
Tuhan sebagai pusat pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad
pertengahan. Ketiga, antroposentris yaitu
fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek wacana filsafat,
hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern. Keempat, logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang
meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini
berkembang setelah abad modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini
ditandai dengan aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa
merupakan wahana pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.
Perhatian filsafat terhadap bahasa
sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu
ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam
semesta. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Seluruh
minat herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju bahwa di
atas dunia fenomenal ini, terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih
tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Meskipun begitu
ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia mencari prinsip perubahan.
Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda
material. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah
dunia material melainkan dunia manusiawi, dan dalam dunia manusiawi ini
kemampuan bicara menduduki tempat yang sentral. Dalam pengertian inilah maka
medium Herakleitos bahwa “kata” (logos) bukan semata-mata gejala antropologi.
Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan
“jangan dengar aku”, “dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua benda
itu satu”. Demikian sehingga pemikiran yunani awal bergeser dari filsafat alam
kepada filsafat bahasa yang meletakkan sebagai objek kajian filsafat.
Filsafat bahasa mulai berkembang
pada abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa.
Noam Chomskylah yang pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin
linguistic. Grice dan Quinelah yang mengangkat meaning sebagai intensionalitas
si pembicara dan meaning dalam konteks kejadiannya. Davidson lebih lanjut
mengetengahkan tentang struktur semantik, untuk memahami bahasa, termasuk
unsur-unsurnya dan mengembangkan tentang interpretasi yang dapat berbeda antara
si pembicara dan yang dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep
tentang referensi. Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga mengandung
referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang ditampilkan.
Filsafat abad modern memberikan
dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. Peranan
rasio, indra, dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan
pengetahuan manusia. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan
otoritas akal, aliran empirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam
pengenalan pengetahuan manusia serta aliran imaterialisme dan kritisme Immanuel
kant menjadi sangat penting sekali pengaruhnya terhadap tumbuhnya filsafat
analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realistas segala sesuatu melalui
ungkapan bahasa.
Bertrand Russel - Filsafat Analitik
Bertrand Russel (1872-1970) lahir dari keluarga bangsawan. Pada umur 2 dan 4
tahun berturut-turut ia kehilangan ibu dan ayahnya. Ia dibesarkan di rumah
orang tua ayahnya. Di Cambrige, ia belajar ilmu pasti dan filsafat, antara lain
pada A. Whitehead. Kita sudah mendengar bahwa George Moore termasuk sahabatnya.
Selama hidupnya yang amat panjang, ia menulis banyak sekali, 71 buku dan
brosur) tentang berbagai pokok, antara lain filsafat, masalah-masalah moral,
pendidikan, sejarah, agama, dan politik. Pada tahun 1950 ia memperoleh hadiah
Nobel bidang sastra. Namanya menjadi masyhur di seluruh dunia terutama karena
pendapat-pendapatnya yang nonkonformistis tentang moral dan politik. Dari sudut
ilmiah jasanya yang terbesar terdapat di bidang logaika Matematis.
Pemikiran filosofis Bertrand Russell yaitu ia mencoba menggabungkan logika Frege tersebut
dengan empirisme yang sebelumnya telah dirumskan oleh David Hume. Bagi Russell,
dunia terdiri dari fakta-fakta atomis (atomic facts). Dalam konteks ini,
kalimat-kalimat barulah bisa disebut sebagai kalimat bermakna, jika kalimat
tersebut berkorespondensi langsung dengan fakta-fakta atomik. Ludwig
Wittgenstein (1889-1951) juga nantinya banyak dipengaruhi oleh Russell. Dia
sendiri mempengaruhi Lingkaran Wina dan membantu membentuk aliran positivisme
logis pada dekade 1920-30 an.
Jalan pemikiran Russell ini
menawarkan jalan keluar untuk aliran atomisme logik. Atomisme logik berpendapat bahwa bahasa keseharian itu banyak menampilkan kekaburan arti.
Russerl menawarkan dasar-dasar logico-epistemologik untuk bahasa. Russell mengetengahkan tentang fakta,
bentuk logika, dan bahasa ideal. Dia mengetengahkan prinsip dasarnya, yaitu:
ada isomorphisme (kesepadanan) antara fakta dengan bahasa, dan dunia ini
merupakan totalitas fakta-fakta, bukan benda. Fakta dalam pemikiran Russerl
merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda.
Ia berpendapat bahwa grammar dari
bahasa yang biasa kita gunakan sebenarnya tidak tepat. Baginya, dunia terdiri
dari fakta-fakta atomis, dan hanya bahasa-bahasa yang mengacu pada fakta atomis
inilah yang dapat disebut sebagai bahasa yang sahih. Oleh karena itu, ia
berpendapat bahwa salah satu tugas terpenting filsafat adalah menganalisis
proposisi-proposisi bahasa untuk menguji kesahihan ‘forma logis’ dari proposisi
tersebut. untuk itu tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan
sintesis logis.
Berdasarkan prinsip-prinsip
pemikiran itulah maka Russerl menekankan bahwa konsep atomismenya tidak
didasarkan pada mefisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena
menurutnya logika adalah yang paling dasar dalam filsafat, oleh karena itu
pemikiran Russell dinamakan ‘atomisme logis’.
Gottlob Frege - Filsafat Analitik
Para filosof analitik berpendapat bahwa filsuf Jerman, Gottlob Frege
(1848-1925), adalah filosof terpenting setelah Immanuel Kant. Frege hendak
merumuskan logika yang rigorus sebagai metode berfilsafatnya.
Dengan kata lain, filsafat itu sendiri pada intinya adalah logika.
Dalam hal ini, ia dipengaruhi filsafat analitik, filsafat-logika, dan
filsafat bahasa. Frege berpendapat bahwa dasar yang kokoh bagi matematika dapat
‘diamankan’ melalui logika dan analisis yang ketat terhadap logika dasar
kalimat-kalimat. Cara itu juga bisa menentukan tingkat kebenaran suatu pernyataan.
Akar-akar analisis linguistik ditanam di lahan yang disiangi oleh seorang
matematikawan bernama G. Frege, ia memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang
implikasinya masih dalam proses penanganan oleh filosof-filosof kontemporer. Ia
menganggap bahwa logika sebetulnya bisa direduksi ke dalam matematika, dan
yakin bahwa bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah
deduktif yang diungkapkan dengan gamblang. Salah satu idenya yang paling
berpengaruh adalah membuat perbedaan antara “arti” (sense) proposisi dan
“acuan” (reference)-nya, dengan mengetengahkan bahwa proposisi memiliki makna
hanya apabila mempunyai arti dan acuan.
Frege juga menyusun notasi baru yang memunkinkan terekpresikannya “penentu
kuantitas” (kata-kata seperti “semua”, “beberapa” dan sebagainya) dalam bentuk
simbol-simbol. Ia berharap para filosof bisa menggunakan notasi ini untuk
menyempurnakan bentuk logis argumen mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk
jauh lebih dekat, daripada waktu-waktu sebelumnya, dengan ide pembuatan
filsafat menjadi ilmu yang ketat.
Filsafat Politik
Filsafat politik telah lahir sejak manusia mulai
menyadari bahwa tata sosial kehidupan bersama bukanlah sesuatu yang terberi
secara alamiah, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terbuka untuk perubahan.
Oleh karenaitu, tata politik merupakan produk budaya dan memerlukan justifikasi
filosofis untuk memepertahankannya. Filsafat politik juga seringkali muncul
sebagai tanggapan terhadap situasi krisis zamannya.
Pada era pertengahan, tema relasi antara negara dan
agama menjadi tema utama filsafat politik. Pada era modern,tema pertentangan
antara kekuasaan absolut dan kekuasaan raja yang dibatasi oleh konstitusi
menjadi tema utama refleksi filsafat politik.Menurut Plato, filsafat politik
adalah upaya untuk membahas dan menguraikan berbagai segi kehidupan manusia
dalam hubungannya dengan negara. Ia menawarkan konsep pemikiran tentang manusia
dan negara yang baik dan ia juga mempersoalkan cara yang harus ditempuh untuk
mewujudkan.
Konsep pemikiran Bagi Plato, manusia dan negara memiliki persamaan hakiki. Oleh
karena itu, apabila manusia baik negara pun baik dan apabila manusia buruk negara
pun buruk. Apabila negara buruk berarti manusianya juga buruk, artinya negara
adalah cerminan mansia yang menjadi warganya (J.H. Rapar, 2001). Filsafat
politik memberikan penjelasan yang berdasarkan rasio dilihat adanya hubungan
antara sifat dan hakikat dari alam semesta (universe) dengansifat dan hakikat
kehidupan politik di dunia fana ini.
Pokok pikiran dari filsafat politik adalah
bahwa persoalan-persoalan yang menyangkut alam semesta seperti
metafisika dan epistemologi harus dipecahkan lebih dahulu sebelum persoalan politik
yang sehari-hari dapat ditanggulangi.
Contoh: Keadilan merupakan hakikat dari alam semesta
sekaligus merupakan pedoman untuk mencapai kehidupan yang baik yang dicita
- citakan oleh Plato. Filsafat politik erat kaitannya dengan etika
dan filsafat politik. Dalam pembahasan filsafat politik dikaitkan dengan
filsafat politik pendidikan.
Filsafat Politik dan Kesadaran
Filsafat
politik dan filsafat kesadaran berdiri di dalam bayang-bayang definisi filsafat
di atas. Filsafat politik adalah cabang dari filsafat yang hendak memahami
hakekat dari kehidupan politik manusia, dan memberikan arahan tentang cara
menciptakan politik yang mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi semua.
Filsafat kesadaran adalah cabang filsafat yang hendak memahami hakekat dari
kesadaran manusia. Keduanya menggunakan metode yang bersifat logis, kritis,
rasional, ontologis dan sistematis.
Filsafat politik
hendak menemukan ide dan prinsip yang memungkinkan adanya masyarakat, atau
komunitas, dalam segala bentuknya. Inilah yang disebut sebagai pendekatan
deskriptif di dalam filsafat politik. Pendekatan ini nantinya berkembang
menjadi ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, ekonomi, politik, hukum dan ilmu
budaya. Namun, filsafat politik tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga
normatif: ia menawarkan prinsip-prinsip yang memungkinkan suatu komunitas
mencapai perdamaian, keadilan dan kemakmuran bersama.
Dua prinsip yang
penting di dalam filsafat politik, yakni keadilan dan kesetaraan. Ada beragam
arti dari konsep keadilan dan kesetaraan. Filsafat politik hendak mengupas dan
mengembangkan beragam arti tersebut, dan melihat kemungkinan penerapannya di
berbagai keadaan. Dua prinsip ini menjadi nyata, ketika ia menjadi prinsip
utama di dalam berbagai institusi publik yang menata keadaan politik sebuah
komunitas.
Filsafat
politik juga memiliki ciri kritis. Ia tidak pernah puas dengan satu jawaban.
Tidak ada jawaban final. Yang ada adalah proses diskusi terus menerus, sehingga
pandangannya bisa terus menyesuaikan dengan keadaan dunia yang terus berubah
dengan cepat sekarang ini.
Corak Filsafat Bangsa Yunani
Jika dilihat
kebelakang corak filsafat bangsa Yunani, maka sudah barang tentu bukan melihat
keruntuhan Yunani yang telah lama ditinggalkan. Di sini yang akan
ditinjau dan dipahami serta yang dihadapi adalah unsur-unsur yang sebagian
besar menjadi fondasi bangunan untuk kultur modern. Contohnya adalah jika
dirunut jalan pikiran yang logis, maka mau tak mau adalah meneruskan tradisi
yang diwarisi dari orang Yunani. Bertolak dari itu, apabila diamati secara seksama,
maka betapa banyak kategori pikiran yang dipakainya sekarang. Oleh sebab itu
dengan tidak disadarinya bahwa perkembangan sekarang ini berasal dari
kebudayaan Yunani atau setidak tidaknya orang Yunani memberikan landasannya.
Untuk seorang filsuf atau ahli di bidang filsafat,
sudah tentu banyak alasan untuk menaruh perhatian kepada filsafat Yunani.
Ditinjau secara kronologis adanya filsafat (filsafat Barat) seluruhnya, maka era
filsafat purba jaman Yunani mempunyai kedudukan istimewa, sebab di Yunani
ditemui munculnya filsafat itu sendiri. Jadi mempelajari filsafat Yunani
artinya menyaksikan kelahiran filsafat itu sendiri, sehingga tidak ada
pemahaman filsafat yang lebih ideal kecuali studi tentang pertumbuhan pemikiran
filsafat di negeri Yunani. Hal ini pernah
dikatakan oleh Alfred Whitehead seorang filsuf modern mengenai Plato sebagai
berikut: “All Western philosophy is but a series of footnes to Plato”.
Bila dilihat secara harafiah tampaknya kata kata ini sangat melebih lebihkan
pada diri Plato, namun sebenarnya tidak, sebab pada Plato dan umumnya dalam
seluruh filsafat Yunani tetap berjumpa dengan problem problem filsafat yang
masih dipersoalkan sampai masa kini. Tema-tema filsafat Yunani,
seperti “ada”, “menjadi”, “substansi”, “ruang”, “waktu”, “kebenaran”, “jiwa”,
“pengenalan”, dan “Tuhan” merupakan tema-tema pula bagi filsafat secara
umum.Begitu pula para filsuf Yunani satu kali untuk selamanya menjuruskan
pemikiran filsafat selanjutnya, sehingga filsafat sekarang masih tetap bergumul
dengan pertanyaan-pertanyaan yang untuk pertama kalinya dikemukakan dalam
kalangan mereka.
Bicara tentang
filsafat ciptaan Yunani tampaknya tidak boleh menghindar bahwa sebenarnya mengalami
banyak kesulitan. Banyak orang mengatakan bahwa pembicaraan periode filsafat
purba Yunani ini adalah “The early Greek period is more a field for
fancy than for fact”. Jadi kesulitan kesulitannya berasal dari
keadaan sumber, karena pikiran dari para filsufnya di mana disimpan untuk bisa
ditemukan dan dipelajarinya. Di samping itu, ada juga beberapa filsuf Yunani
yang tidak pernah menulis satu barispun, misalnya Thales, Pythagoras, dan
Sokrates. Sehingga untuk mengetahui jalan pikiran mereka terpaksa harus percaya
dari kesaksian orang lain yang berbicara tentang ajaran mereka, seperti percaya
pada tulisan dan pembicaraan para murid ataupun teman sejawatnya. Selain itu, ada
filsuf filsuf yang meskipun menulis satu karangan atau lebih, namun tulisan itu
sudah hilang entah di mana, sehingga harus merasa puas dengan beberapa fragmen
yang telah dikutip oleh para pengarang lain dengan kesaksian isi ajaran mereka.
Disinilah problem muncul, yaitu kesaksian bagaimana yang harus dipercaya
tentang pikiran filsuf dimaksud. Problem tentang sumber atau refrensi terutama
muncul apabila yang dibicarakan adalah para filsuf yang mendahului Sokrates dan
karenanya filsufnya pun lalu dijuluki “filsuf filsuf pra-Sokratik”. Meskipun
banyak ditemui banyak kesulitan, namun masih bisa dibilang beruntung, karena
mendapati sumber sumber yang jauh lebih memuaskan untuk ketiga karya filsuf
Yunani yang dibilang besar, yaitu Plato, Aristoteles, dan Plotinus.
Langganan:
Postingan (Atom)
