ASAL USUL NAMA BANTEN

Suku Banten atau lebih tepatnya orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari pendudukIndonesia. Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten. 
Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:

Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung ler, tanggeran alas Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara. Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong, Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan.

Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa atau Batavia direbut oleh Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda.

Orang asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These estates, owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of Kelapadua."Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau penduduk Banten. Hanya setelah dibentuknya Provinsi Banten, ada sebagian orang menerjemahkan Bantenese menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan budaya yang unik.

Kebudayaan Rudat Banten

Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M).
Tidak banyak yang mengetahui siapa yang menciptakan kesenian ini, karena sekarang sesepuh yang mengetahui seluk-beluk Rudat sangat sedikit bahkan sebagian sudah meninggal. Naskah yag berisi sejarah Rudat dan nilai-nilai filosofis tentang rudat pun hanya dimiliki oleh satu sampai dua orang yang salah satunya merupakan anak dari mendiang pemilik naskah yang menjadi sesepuh disana.
Meskipun tidak banyak yang mengetahui pencipta kesenian ini, warga Sukalila meyakini bahwa Rudat sebetulnya jurus silat yang dikembangkan menjadi tarian. Langkah-langkahnya merupakan langkah-langkah silat yang dikembangkan menjadi tarian dan diiringi musik dan shalawat.Seni tradisional Banten ini menjadi rangkaiaan utama tatkala Kesultanan Banten mengadakan hajat besar atau dalam acara penyambutan tamu kehormatan yang berasal dari mancanegara.
Pasang surut Seni Rudat sangat erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Banten. Saat kedatangan Belanda, Seni Rudat malah terkubur. Pada zaman Sinuhun Kasultanan Banten IV Pangeran  Panembahan Maulana Abdulmufakir Mahmudin Abdul Kadir (1596-1651 M) seni tradisional khas Banten ini benar-benar dilarang Belanda karena dicurigai sebagai ajang untuk mengumpulkan masa untuk berlatih bela diri dan menghimpun kekuatan untuk menentang Belanda.

Filsafat Islam

Dalam Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke daerah-daerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM), setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela (sebelah timur Tigris).
Alexander Agung datang dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.
Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makmun (198-218 H/813-833 M). Filsafat Yunani paling dominan masuk ke duniaIslam di tandai dengan adanya penerjemahan-penerjemahan buku-buku filsafat. Upaya-upaya umat Islam ini dapat memunculkan tokoh filosuf Islam terkenal ke dalam atau luar islam.

Sebagaimana  nama: al-Kindi, Ibn Rusyd, Ibn Sina, ibnu bajjah dan masih banyak lagi. Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam.  Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa usaha penerjemahan ini tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga naskah-naskah dari bebagai bahasa, seperti bahasa Siryani, Persia, dan India.

Hubungan Manusia dengan Alam

Hubungan manusia dengan alamnya mengandung beberapa aspek, antara lain manusia tidak lepas dari interaksinya bersama sesama manusia juga dengan hewan,tumbuhan, lingkungan / alam. Karena aspek-aspek tersbeut sangat berarti bagi manusia, karena manusia adalah mahluk yang tidak dapat hidup sendiri, tanpa bantuan disekitar lingkungan hidupnya. Selain itu juga manusia diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah sebagaimana mestinya seperti ketentuan yang telah diberikan Tuhan dalam kitab kepercayaan masing-masing agama.
Sungguh terlalu bila manusia tidak bersyukur atas segala apa yang diberikan oleh Tuhan, manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi ini, sebagai penguasa alam semesta, karena diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna dibandingkan mahluk hidup lainnya. Manusia dapat bersyukur pada Tuhanya dengan cara beribadah yang rajin menjauhi segala larangannya dan mentaati segala perintah- Nya.
Di alam dunia ini kita manusia diciptakan berpasang-pasangan, ada laki-laki ada perempuan, dan uniknya manusia memiliki sifat yang beragam, ada yang baik, jahat, pemarah, pemalu, sabar, dan tidak sabar dalam menghadapi masalah.
Walaupun setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda namun kita sebagai manusia harus saling menghormati dengan manusia lainnya, sebab dengan terjalinnya hubungan yang baik antar manusia dengan manusia, maka akan tercipta ketentraman hidup. Bayangkan bila manusia di dunia ini tidak saling menghormati dan mengerti dengan segala kepentingan dan kesibukannya? Mungkin tidak akan tercipta ketentraman hidup dan dunia ini akan semrawut dengan ulah manusia.
hidup dapat dijalin dengan cara saling berinteraksi antar manusia, saling menyayangi, saling mencintai. Cara tersebut dapat dijalankan pada berbagai situasi / keadaan, antara lain dalam bermasyarakat, keluarga dan dalam lingkungan keluarga juga, meski terkadang sekarang ini sulit untuk menjalin ketentraman hidup dikarenakan pola pikir manusia yang telah diracuni oleh pola pikir yang menyimpang.
Lalu hubungan manusia dengan hewan / binatang, cara kita sebagai manusia menghormati binatang dengan cara menyayanginya dan tidak menyiksanya /membunuhnya bila binatang itu tidak mengganggu. Ada sebagian manusia yang menyayangi binatang dengan cara memeliharanya. Binatang tersebut bisa dikategorkan menjadi 2 macam, antara lain binatang yang jinak dan tidak jinak. Kedua kategori sifat binatang ini sebagian besar ada yang dipelihara oleh manusia juga.

Binatang juga sangat bermanfaat bagi manusia, selain dapat dimanfaatkan dan dapat dimakan juga sebagai sarana penambah kebutuhan untuk konsumsi makanan. Bila binatanag yang ada disekitar kita tidak disayangi maka dapat merugikan jiwa manusia sebab secara tidak langsung binatang itu dapat menyerang dan membunuh kita, terutama seperti harimau, ular, banteng. Karena kita hidup di dunia ini tidak hanya berdampingan dengan manusia saja tapi dengan binatang juga.

Neo-Positivisme dan Pendidikan

Prof. M. Nasroen, S.H mengatakan filsafat itu adalah sebuah dari corak usaha manusia dalam menghadapi, memecahkan dan menundukkan masalah yang mengenai ada dan hidupnya, yaitu yang akan memberikan kepuasan bagi dirinya. Falsafah itu adalah ciptaan dari manusia, sebagai satu kesatuan tetap dalam falsafah ini. Dalam dunia filsafat timbul berbagai aliran, seiring zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman, salah satunya apa yang dikenal dengan filsafat Neo-Positivisme.
Aliran yang paling berpengaruh pada abad ini adalah positivisme, dengan tokohnya Auguste Comte(1798-1857). ).Auguste Comte adalah figur yang paling representatif untuk positivisme sehingga dia dijuluki Bapak Positivisme. Pada tahun terjadinya Revolusi, filsuf ini dilahirkan di kota Montpellier dari sebuah keluarga bangsawan yang beragama Katolik . Dalam usia 25 tahun, dia studi di Ecole Polytecnique di Paris dan sesudah dua tahun di sana dia mempelajari pikiran-pikiran kaum ideolog.Claude-Henri de Saint Simon (1760-1825) salah satu filsuf abad ke-19 menerima Auguste Comte sebagai sekretarisnya, dan pemikiran Saint Simon memengaruhi perkembangan intelektual Comte. Pada tahun 1826 Comte sudah menemukan proyek filosofisnya sendiri dan mulai mengajarkannya di luar pendidikan resmi. Karya yang paling terkenal dari Auguste Comte adalah  Course of Positive Philosophy (Cours de philosophie positive). 
Positivisme diperkenalkan oleh Comte,  istilah positivisme  berasal dari kata “positif”. Positivisme pada dasarnya  adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu – satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman faktual. Dengan filsafat Comte mengartikan sebagai sistem umum tentang konsep-konsep mahusia, sedangkan positif  diartikannya sebagai teori yang bertujuan untuk penyusunan fakta-fakta yang teramati.   Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam ‘pencapaian kebenaran’-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme. Comte menolak sama sekali bentuk pengetahuan lain, seperti etika, teologi, seni yang melampaui fenomena yang teramati. Menurut Comte bentuk pengetahuan yang sahih mengenai kenyataan hanyalah ilmu pengetahuan.
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris yang terukur. Empirisme masih menerima adanya pengalaman subjektif yang bersifat rohani, sedangkan positivisme menolaknya sama sekali. Comte menganggap  bahwa pengetahuan sejati hanyalah pengalaman objektif yang bersifat lahiriah, yang bisa diuji secara indrawi (Hardiman, F. Budi, 2011).
Aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1.   Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2.    Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3.   Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain
Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis. Positivisme logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun1920-an. Lingkaran Wina merupakan kelompok neo-positivisme (positivisme logis) yang melanjutkan proyek positivisme. Pada umumnya disebut juga mazhab “wina”  atau “kring wina” kaum neo-positivisme semenjak semula telah  membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah ghaibnya, terdapat pada sekte-sektenya. Neo-positivisme berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Kaum neo-positivisme semenjak semula telah membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah galibnya, terdapat pada sekte-sekte. Kaum neo positivis mempunyai keyakinan bahwa filsafat sebagai ilmu hanya “aman” dalam tangan mereka sendiri dan bahwa tiap orang mempelajari filsafat menurut cara lain mungkin ada mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan luhur, tetapi bahkan mengerjakan sesuatu secara ilmu. 
Nama “neo-positivisme” telah menyatakan bahwa seperti halnya “neo-kantianisme” berhadapan dengan suatu pergerakan yang merupakan suatu lanjutan dari aliran-aliran yang lama. Yang diteruskannya. Menurut E.Von Aster; “neo-positivisme mempunyai dua akar utama, yang satu adalah reaksi terhadap aliran metafisika, yang kedua adalah neo positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern. Neo-positivisme cenderung untuk menumbuhkan pengetahuan dengan bahan ilmu alam dan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna saja untuk dianalisis oleh filsafat. Hal-hal yang merupakan fakta-fakta dikatakan temasuk bidang ilmu. Hanya analisis tentang bahasa dan pertanyaan-pertanyaan mengenai makna dan verifikasi yang mengiringinya, yang tetap diakui termasuk lingkungan filsafat. Pendekatan yang radikal semacam ni membatasi jumlah masalah filsafat yang banyak itu menjadi hanya meliputi lapangan-lapangan tertentu dari epistemologi disamping logika. Sebagai konsekuensinya penganut neo positivisme sepaham untuk menolak gagasan bahwa filsafat dapat mempersoalkan tentang kenyataan sebagai keseluruhan atau bahkan menolak usaha filsafat.  Untuk memberikan gambaran yang sistematis tentang kenyataan penolakan ini dilakukan dengan dua cara yakni:
1. Dengan berusaha mengembalikan semua persoalan menjadi masalah pengalaman inderawi.
2. Dengan menganalisa bahasa, dan berusaha menunjukan betapa kita dapat terpedaya oleh struktur bahasa. 

Penganut neo-positivisme mengatakan, satu-satunya corak pengamatan yang relevan ialah pengematan inderawi.. bilamana “ukuran dapat diverifikasi” tidak dapat diterapkan, maka tidak mungkin ada makna, dan pernyataan yang dipertimbangkan dikatakan “tiada bermakna”. Banyak diantara penganut neo positivisme menegaskan tentang pentingnya kalimat-kalimat emotif, meskipun kalimat-kalimat tersebut tidak berisi makna.

Asal Mula TARI PENDET

Bali merupakan salah satu propinsi yang tersoroh dengan keanekaragaman kebudayaan dan eksotisme tempat wisata yang dimilikinya. Bali mempunyai beberapa kesenian tari yang sudah mendunia popularitasnya. Selain tari kecak, Tari Pendet merupakan salah satu kesenian yang sudah tak asing lagi bagi para pelancong lokal maupun manca negara. Tari ini secara rutin dipentaskan dan menjadi hiburan bagi para wisatawan. Seperti yang kalian ketahui tari pendet adalah tarian yang berasal dari Bali, Tari Pendet juga pernah dipelajari oleh orang banyak bukan hanya di Bali saja, Tari Pendet sendiri merupakan sebuah pernyataan dari persembahkan yang di tuangkan dalam bentuk kesenian tari. Menajdi semakin populer karena kesenian ini sangat mudah di tarikan oleh semua orang dan tidak perlu dengan latihan yang intensif.
Tari Pendet diciptakan oleh seorang maestro tari dari Bali yaitu I Wayan Rindi (1967), I Wayan Rindi menjadikan tari pendet sebagai penggubah tarian sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Asal usul tari pendet diciptakan adalah untuk  tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Inti Gerakan Tari pendet adalah untuk  simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa seniman di pulau Bali merubah Tari Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, tetapi Tari pendet tetap mengusung unsur sakral dan religius yang menjadi ciri  tari pendet. Fungsi dari tari pendet ini adalah sebagai pemujaan umat Hindu di Pura, sebagai sarana Upacara Keagamaan, Penyambutan turunnya Dewata ke dunia dan pertunjukan pada pentas seni.  Tari Pendet ditarikan oleh 4 penari perempuan atau lebih, bisa juga ditarikan secara tunggal dengan gerakan yang lemah gemulai. Hal yang dipentingkan dalam pementasan Tari Pendet adalah ekspresi seperti penjiwaan dan senyuman.
Tari Pendet diiringi oleh seperangkat alat gamelan Bali. Perangkat gamelan Bali berbeda dengan perangkat gamelan Jawa. Perangkat gamelan Bali antara lain: tarompong, reyong, bende, kempul, gong, kendang wadu, petuk, kendang lanang, cengceng, jublag, jagong, gangsa, ugal, kantil, dan gong kebyar. Penabuh gamelan biasanya dilakukan pria sambil duduk bersila, dan alat musik dimainkan dengan cara dipukul dengan pemukul khusus. Beberapa nama gerakan dalam tari pendet, misalnya ada gerak ngumbang, ngelung/agem, ngegol, nyeregseg, gelatik nuut papah, nyalud, sledet, dan ngotag leher. 
Tata rias Tari Pendet pada dasarnya menggunakan tata rias putri halus (alus luruh) yang diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis muka sesuai dengan karakter tarian. Busana yang dipakai para penari tari pendet, yaitu: Tapih berwarna hijau dengan motif crapcap, Kamen berwarna merah dengan motif keemasan  dengan pemakaian kamen biasa, Angkin prada berwarna kuning dan memakai motif tumpeng, Selendang berwarna merah tanpa motif yang dililit di badan penari,  Hiasan di kepala: Rambut disasak, menggunakan pusung gonjer, Bunga mawar diletakkan di tenga-tengahnantara bunga kamboja dan semanggi, Bunga kamboja (jepun) diletakkan melengkung dari atas telinga kanan sampai bersentuhan dengan bunga mawar merah, Bunga Semanggi diletakkan disebelah kiri , melengkung ke bawah dengan cara menyelipkan tangkainya pada batu pusungan, Bunga Sandat disusun sepanjang susunan bunga jepun, tepatnya dibelakang bunga mawar merah dan bunga jepun, serta menggunakan subeng.
Keistimewaan Tari pendet pada gerakan yang dibawakan dengan penuh semangat dan ekspresif, Tari “Pendet” ditarikan dengan liukan badan yang gemulai serta suasana riang gembira, Setiap penari membawa bokor (piring besar yang cekung, bertepi lebar, dan biasanya terbuat dari logam) yang diisi dengan bunga untuk ditaburkan, Tari Pendet banyak menggunakan gerakan mata yang disebut seledet. Gerak tangan, gerak kepala, gerak bahu, dan gerak kaki serta salah satu sikap menari disebut agem,yaitu sikap kedua kaki merengkuh pada posisi renggang dengan tangan ditekuk. Ini sedikitnya tentang tari pendet.

Asal Mula Pelabuhan Merak

Seperti yang kalian ketahui pelabuhan merak merupakan tempat penyebrangan masyarakat untuk menyebrang ke lampung. sejarah awal Pelabuhan Merak yaitu: disini ada yang namanya Kapal “Taliwang” yg tercatat dalam rintisan sejarah RI, sebagai alat perhubungan pertama menghubungkan Merak dan Panjang, 1952.
Pelabuhan Merak dibangun sejak 1912 oleh Hindia Belanda melalui sebuah perusahaan pengelolaan kereta api (Staatsspoorwegen), setahun sebelum Pelabuhan Kamal dibangun 1913. Masa ini Pelabuhan Merak digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pendukung jalur kereta api Tanah Abang (Jakarta) dengan Merak di Banten. Sampai pada masa Pasca Kemerdekaan, ketika nasionalisasi perusahaan asing digulirkan, pengelolaan Pelabuhan Merak diambil alih oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1959.
Menurut sebuah penelitian, dijadikannya Merak sebagai lokasi pelabuhan, tidak terlepas dari dari beberapa pertimbangan; Pertama, posisi Merak waktu itu jika dilihat dari ketersediaan sarana transportasi sangat berdekatan dengan Pulau Sumatera dibandingkan dengan daerah lainnya di pantai Utara di Pulau Jawa yaitu sejauh 105.79 Km dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Panjang.
Kedua, karena jarak yang dekat itulah maka otomatis jarak tempuh menjadi semakin dekat. Pemerintah Hindia Belanda memandang hal ini sebagai keuntungan dalam ekonomi maupun politik, misalnya untuk meredam jika ada pemberontakan atau bentuk perlawanan lainnya;
Ketiga, keadaan geografis di Merak sangat memungkinkan untuk menjadi sebuah pelabuhan sebab secara alami didukung oleh palung laut serta adanya pulau-pulau yang dapat menahan hempasan ombak dari Samudera Hindia yang masuk ke Selat Sunda;
Keempat, secara politis lainnya Merak dapat menjadi tempat pengalihan terhadap aktivitas masyarakat pribumi agar tidak menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok;

Kelima, karena posisinya yang strategis maka Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Panjang sekaligus merupakan tempat untuk memantau dan mangawasi aktivitas pelayaran yang melintas di Selat Sunda terutama kapal-kapal dagang yang merupakan saingan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini mengindikasikan arti penting jalur ini.

Senin, 26 Desember 2016

ASAL USUL NAMA BANTEN

Diposting oleh Unknown di 04.23 0 komentar
Suku Banten atau lebih tepatnya orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari pendudukIndonesia. Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten. 
Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:

Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung ler, tanggeran alas Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara. Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong, Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan.

Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa atau Batavia direbut oleh Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda.

Orang asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These estates, owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of Kelapadua."Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau penduduk Banten. Hanya setelah dibentuknya Provinsi Banten, ada sebagian orang menerjemahkan Bantenese menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan budaya yang unik.

Kebudayaan Rudat Banten

Diposting oleh Unknown di 04.19 0 komentar
Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M).
Tidak banyak yang mengetahui siapa yang menciptakan kesenian ini, karena sekarang sesepuh yang mengetahui seluk-beluk Rudat sangat sedikit bahkan sebagian sudah meninggal. Naskah yag berisi sejarah Rudat dan nilai-nilai filosofis tentang rudat pun hanya dimiliki oleh satu sampai dua orang yang salah satunya merupakan anak dari mendiang pemilik naskah yang menjadi sesepuh disana.
Meskipun tidak banyak yang mengetahui pencipta kesenian ini, warga Sukalila meyakini bahwa Rudat sebetulnya jurus silat yang dikembangkan menjadi tarian. Langkah-langkahnya merupakan langkah-langkah silat yang dikembangkan menjadi tarian dan diiringi musik dan shalawat.Seni tradisional Banten ini menjadi rangkaiaan utama tatkala Kesultanan Banten mengadakan hajat besar atau dalam acara penyambutan tamu kehormatan yang berasal dari mancanegara.
Pasang surut Seni Rudat sangat erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Banten. Saat kedatangan Belanda, Seni Rudat malah terkubur. Pada zaman Sinuhun Kasultanan Banten IV Pangeran  Panembahan Maulana Abdulmufakir Mahmudin Abdul Kadir (1596-1651 M) seni tradisional khas Banten ini benar-benar dilarang Belanda karena dicurigai sebagai ajang untuk mengumpulkan masa untuk berlatih bela diri dan menghimpun kekuatan untuk menentang Belanda.

Filsafat Islam

Diposting oleh Unknown di 04.05 0 komentar
Dalam Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke daerah-daerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM), setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela (sebelah timur Tigris).
Alexander Agung datang dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.
Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makmun (198-218 H/813-833 M). Filsafat Yunani paling dominan masuk ke duniaIslam di tandai dengan adanya penerjemahan-penerjemahan buku-buku filsafat. Upaya-upaya umat Islam ini dapat memunculkan tokoh filosuf Islam terkenal ke dalam atau luar islam.

Sebagaimana  nama: al-Kindi, Ibn Rusyd, Ibn Sina, ibnu bajjah dan masih banyak lagi. Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam.  Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa usaha penerjemahan ini tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga naskah-naskah dari bebagai bahasa, seperti bahasa Siryani, Persia, dan India.

Hubungan Manusia dengan Alam

Diposting oleh Unknown di 00.15 0 komentar
Hubungan manusia dengan alamnya mengandung beberapa aspek, antara lain manusia tidak lepas dari interaksinya bersama sesama manusia juga dengan hewan,tumbuhan, lingkungan / alam. Karena aspek-aspek tersbeut sangat berarti bagi manusia, karena manusia adalah mahluk yang tidak dapat hidup sendiri, tanpa bantuan disekitar lingkungan hidupnya. Selain itu juga manusia diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah sebagaimana mestinya seperti ketentuan yang telah diberikan Tuhan dalam kitab kepercayaan masing-masing agama.
Sungguh terlalu bila manusia tidak bersyukur atas segala apa yang diberikan oleh Tuhan, manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi ini, sebagai penguasa alam semesta, karena diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna dibandingkan mahluk hidup lainnya. Manusia dapat bersyukur pada Tuhanya dengan cara beribadah yang rajin menjauhi segala larangannya dan mentaati segala perintah- Nya.
Di alam dunia ini kita manusia diciptakan berpasang-pasangan, ada laki-laki ada perempuan, dan uniknya manusia memiliki sifat yang beragam, ada yang baik, jahat, pemarah, pemalu, sabar, dan tidak sabar dalam menghadapi masalah.
Walaupun setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda namun kita sebagai manusia harus saling menghormati dengan manusia lainnya, sebab dengan terjalinnya hubungan yang baik antar manusia dengan manusia, maka akan tercipta ketentraman hidup. Bayangkan bila manusia di dunia ini tidak saling menghormati dan mengerti dengan segala kepentingan dan kesibukannya? Mungkin tidak akan tercipta ketentraman hidup dan dunia ini akan semrawut dengan ulah manusia.
hidup dapat dijalin dengan cara saling berinteraksi antar manusia, saling menyayangi, saling mencintai. Cara tersebut dapat dijalankan pada berbagai situasi / keadaan, antara lain dalam bermasyarakat, keluarga dan dalam lingkungan keluarga juga, meski terkadang sekarang ini sulit untuk menjalin ketentraman hidup dikarenakan pola pikir manusia yang telah diracuni oleh pola pikir yang menyimpang.
Lalu hubungan manusia dengan hewan / binatang, cara kita sebagai manusia menghormati binatang dengan cara menyayanginya dan tidak menyiksanya /membunuhnya bila binatang itu tidak mengganggu. Ada sebagian manusia yang menyayangi binatang dengan cara memeliharanya. Binatang tersebut bisa dikategorkan menjadi 2 macam, antara lain binatang yang jinak dan tidak jinak. Kedua kategori sifat binatang ini sebagian besar ada yang dipelihara oleh manusia juga.

Binatang juga sangat bermanfaat bagi manusia, selain dapat dimanfaatkan dan dapat dimakan juga sebagai sarana penambah kebutuhan untuk konsumsi makanan. Bila binatanag yang ada disekitar kita tidak disayangi maka dapat merugikan jiwa manusia sebab secara tidak langsung binatang itu dapat menyerang dan membunuh kita, terutama seperti harimau, ular, banteng. Karena kita hidup di dunia ini tidak hanya berdampingan dengan manusia saja tapi dengan binatang juga.

Neo-Positivisme dan Pendidikan

Diposting oleh Unknown di 00.08 0 komentar
Prof. M. Nasroen, S.H mengatakan filsafat itu adalah sebuah dari corak usaha manusia dalam menghadapi, memecahkan dan menundukkan masalah yang mengenai ada dan hidupnya, yaitu yang akan memberikan kepuasan bagi dirinya. Falsafah itu adalah ciptaan dari manusia, sebagai satu kesatuan tetap dalam falsafah ini. Dalam dunia filsafat timbul berbagai aliran, seiring zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman, salah satunya apa yang dikenal dengan filsafat Neo-Positivisme.
Aliran yang paling berpengaruh pada abad ini adalah positivisme, dengan tokohnya Auguste Comte(1798-1857). ).Auguste Comte adalah figur yang paling representatif untuk positivisme sehingga dia dijuluki Bapak Positivisme. Pada tahun terjadinya Revolusi, filsuf ini dilahirkan di kota Montpellier dari sebuah keluarga bangsawan yang beragama Katolik . Dalam usia 25 tahun, dia studi di Ecole Polytecnique di Paris dan sesudah dua tahun di sana dia mempelajari pikiran-pikiran kaum ideolog.Claude-Henri de Saint Simon (1760-1825) salah satu filsuf abad ke-19 menerima Auguste Comte sebagai sekretarisnya, dan pemikiran Saint Simon memengaruhi perkembangan intelektual Comte. Pada tahun 1826 Comte sudah menemukan proyek filosofisnya sendiri dan mulai mengajarkannya di luar pendidikan resmi. Karya yang paling terkenal dari Auguste Comte adalah  Course of Positive Philosophy (Cours de philosophie positive). 
Positivisme diperkenalkan oleh Comte,  istilah positivisme  berasal dari kata “positif”. Positivisme pada dasarnya  adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu – satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman faktual. Dengan filsafat Comte mengartikan sebagai sistem umum tentang konsep-konsep mahusia, sedangkan positif  diartikannya sebagai teori yang bertujuan untuk penyusunan fakta-fakta yang teramati.   Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam ‘pencapaian kebenaran’-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme. Comte menolak sama sekali bentuk pengetahuan lain, seperti etika, teologi, seni yang melampaui fenomena yang teramati. Menurut Comte bentuk pengetahuan yang sahih mengenai kenyataan hanyalah ilmu pengetahuan.
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris yang terukur. Empirisme masih menerima adanya pengalaman subjektif yang bersifat rohani, sedangkan positivisme menolaknya sama sekali. Comte menganggap  bahwa pengetahuan sejati hanyalah pengalaman objektif yang bersifat lahiriah, yang bisa diuji secara indrawi (Hardiman, F. Budi, 2011).
Aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1.   Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2.    Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3.   Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain
Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis. Positivisme logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun1920-an. Lingkaran Wina merupakan kelompok neo-positivisme (positivisme logis) yang melanjutkan proyek positivisme. Pada umumnya disebut juga mazhab “wina”  atau “kring wina” kaum neo-positivisme semenjak semula telah  membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah ghaibnya, terdapat pada sekte-sektenya. Neo-positivisme berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Kaum neo-positivisme semenjak semula telah membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah galibnya, terdapat pada sekte-sekte. Kaum neo positivis mempunyai keyakinan bahwa filsafat sebagai ilmu hanya “aman” dalam tangan mereka sendiri dan bahwa tiap orang mempelajari filsafat menurut cara lain mungkin ada mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan luhur, tetapi bahkan mengerjakan sesuatu secara ilmu. 
Nama “neo-positivisme” telah menyatakan bahwa seperti halnya “neo-kantianisme” berhadapan dengan suatu pergerakan yang merupakan suatu lanjutan dari aliran-aliran yang lama. Yang diteruskannya. Menurut E.Von Aster; “neo-positivisme mempunyai dua akar utama, yang satu adalah reaksi terhadap aliran metafisika, yang kedua adalah neo positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern. Neo-positivisme cenderung untuk menumbuhkan pengetahuan dengan bahan ilmu alam dan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna saja untuk dianalisis oleh filsafat. Hal-hal yang merupakan fakta-fakta dikatakan temasuk bidang ilmu. Hanya analisis tentang bahasa dan pertanyaan-pertanyaan mengenai makna dan verifikasi yang mengiringinya, yang tetap diakui termasuk lingkungan filsafat. Pendekatan yang radikal semacam ni membatasi jumlah masalah filsafat yang banyak itu menjadi hanya meliputi lapangan-lapangan tertentu dari epistemologi disamping logika. Sebagai konsekuensinya penganut neo positivisme sepaham untuk menolak gagasan bahwa filsafat dapat mempersoalkan tentang kenyataan sebagai keseluruhan atau bahkan menolak usaha filsafat.  Untuk memberikan gambaran yang sistematis tentang kenyataan penolakan ini dilakukan dengan dua cara yakni:
1. Dengan berusaha mengembalikan semua persoalan menjadi masalah pengalaman inderawi.
2. Dengan menganalisa bahasa, dan berusaha menunjukan betapa kita dapat terpedaya oleh struktur bahasa. 

Penganut neo-positivisme mengatakan, satu-satunya corak pengamatan yang relevan ialah pengematan inderawi.. bilamana “ukuran dapat diverifikasi” tidak dapat diterapkan, maka tidak mungkin ada makna, dan pernyataan yang dipertimbangkan dikatakan “tiada bermakna”. Banyak diantara penganut neo positivisme menegaskan tentang pentingnya kalimat-kalimat emotif, meskipun kalimat-kalimat tersebut tidak berisi makna.

Asal Mula TARI PENDET

Diposting oleh Unknown di 00.01 0 komentar
Bali merupakan salah satu propinsi yang tersoroh dengan keanekaragaman kebudayaan dan eksotisme tempat wisata yang dimilikinya. Bali mempunyai beberapa kesenian tari yang sudah mendunia popularitasnya. Selain tari kecak, Tari Pendet merupakan salah satu kesenian yang sudah tak asing lagi bagi para pelancong lokal maupun manca negara. Tari ini secara rutin dipentaskan dan menjadi hiburan bagi para wisatawan. Seperti yang kalian ketahui tari pendet adalah tarian yang berasal dari Bali, Tari Pendet juga pernah dipelajari oleh orang banyak bukan hanya di Bali saja, Tari Pendet sendiri merupakan sebuah pernyataan dari persembahkan yang di tuangkan dalam bentuk kesenian tari. Menajdi semakin populer karena kesenian ini sangat mudah di tarikan oleh semua orang dan tidak perlu dengan latihan yang intensif.
Tari Pendet diciptakan oleh seorang maestro tari dari Bali yaitu I Wayan Rindi (1967), I Wayan Rindi menjadikan tari pendet sebagai penggubah tarian sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Asal usul tari pendet diciptakan adalah untuk  tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Inti Gerakan Tari pendet adalah untuk  simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa seniman di pulau Bali merubah Tari Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, tetapi Tari pendet tetap mengusung unsur sakral dan religius yang menjadi ciri  tari pendet. Fungsi dari tari pendet ini adalah sebagai pemujaan umat Hindu di Pura, sebagai sarana Upacara Keagamaan, Penyambutan turunnya Dewata ke dunia dan pertunjukan pada pentas seni.  Tari Pendet ditarikan oleh 4 penari perempuan atau lebih, bisa juga ditarikan secara tunggal dengan gerakan yang lemah gemulai. Hal yang dipentingkan dalam pementasan Tari Pendet adalah ekspresi seperti penjiwaan dan senyuman.
Tari Pendet diiringi oleh seperangkat alat gamelan Bali. Perangkat gamelan Bali berbeda dengan perangkat gamelan Jawa. Perangkat gamelan Bali antara lain: tarompong, reyong, bende, kempul, gong, kendang wadu, petuk, kendang lanang, cengceng, jublag, jagong, gangsa, ugal, kantil, dan gong kebyar. Penabuh gamelan biasanya dilakukan pria sambil duduk bersila, dan alat musik dimainkan dengan cara dipukul dengan pemukul khusus. Beberapa nama gerakan dalam tari pendet, misalnya ada gerak ngumbang, ngelung/agem, ngegol, nyeregseg, gelatik nuut papah, nyalud, sledet, dan ngotag leher. 
Tata rias Tari Pendet pada dasarnya menggunakan tata rias putri halus (alus luruh) yang diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis muka sesuai dengan karakter tarian. Busana yang dipakai para penari tari pendet, yaitu: Tapih berwarna hijau dengan motif crapcap, Kamen berwarna merah dengan motif keemasan  dengan pemakaian kamen biasa, Angkin prada berwarna kuning dan memakai motif tumpeng, Selendang berwarna merah tanpa motif yang dililit di badan penari,  Hiasan di kepala: Rambut disasak, menggunakan pusung gonjer, Bunga mawar diletakkan di tenga-tengahnantara bunga kamboja dan semanggi, Bunga kamboja (jepun) diletakkan melengkung dari atas telinga kanan sampai bersentuhan dengan bunga mawar merah, Bunga Semanggi diletakkan disebelah kiri , melengkung ke bawah dengan cara menyelipkan tangkainya pada batu pusungan, Bunga Sandat disusun sepanjang susunan bunga jepun, tepatnya dibelakang bunga mawar merah dan bunga jepun, serta menggunakan subeng.
Keistimewaan Tari pendet pada gerakan yang dibawakan dengan penuh semangat dan ekspresif, Tari “Pendet” ditarikan dengan liukan badan yang gemulai serta suasana riang gembira, Setiap penari membawa bokor (piring besar yang cekung, bertepi lebar, dan biasanya terbuat dari logam) yang diisi dengan bunga untuk ditaburkan, Tari Pendet banyak menggunakan gerakan mata yang disebut seledet. Gerak tangan, gerak kepala, gerak bahu, dan gerak kaki serta salah satu sikap menari disebut agem,yaitu sikap kedua kaki merengkuh pada posisi renggang dengan tangan ditekuk. Ini sedikitnya tentang tari pendet.

Minggu, 25 Desember 2016

Asal Mula Pelabuhan Merak

Diposting oleh Unknown di 23.57 0 komentar
Seperti yang kalian ketahui pelabuhan merak merupakan tempat penyebrangan masyarakat untuk menyebrang ke lampung. sejarah awal Pelabuhan Merak yaitu: disini ada yang namanya Kapal “Taliwang” yg tercatat dalam rintisan sejarah RI, sebagai alat perhubungan pertama menghubungkan Merak dan Panjang, 1952.
Pelabuhan Merak dibangun sejak 1912 oleh Hindia Belanda melalui sebuah perusahaan pengelolaan kereta api (Staatsspoorwegen), setahun sebelum Pelabuhan Kamal dibangun 1913. Masa ini Pelabuhan Merak digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pendukung jalur kereta api Tanah Abang (Jakarta) dengan Merak di Banten. Sampai pada masa Pasca Kemerdekaan, ketika nasionalisasi perusahaan asing digulirkan, pengelolaan Pelabuhan Merak diambil alih oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1959.
Menurut sebuah penelitian, dijadikannya Merak sebagai lokasi pelabuhan, tidak terlepas dari dari beberapa pertimbangan; Pertama, posisi Merak waktu itu jika dilihat dari ketersediaan sarana transportasi sangat berdekatan dengan Pulau Sumatera dibandingkan dengan daerah lainnya di pantai Utara di Pulau Jawa yaitu sejauh 105.79 Km dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Panjang.
Kedua, karena jarak yang dekat itulah maka otomatis jarak tempuh menjadi semakin dekat. Pemerintah Hindia Belanda memandang hal ini sebagai keuntungan dalam ekonomi maupun politik, misalnya untuk meredam jika ada pemberontakan atau bentuk perlawanan lainnya;
Ketiga, keadaan geografis di Merak sangat memungkinkan untuk menjadi sebuah pelabuhan sebab secara alami didukung oleh palung laut serta adanya pulau-pulau yang dapat menahan hempasan ombak dari Samudera Hindia yang masuk ke Selat Sunda;
Keempat, secara politis lainnya Merak dapat menjadi tempat pengalihan terhadap aktivitas masyarakat pribumi agar tidak menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok;

Kelima, karena posisinya yang strategis maka Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Panjang sekaligus merupakan tempat untuk memantau dan mangawasi aktivitas pelayaran yang melintas di Selat Sunda terutama kapal-kapal dagang yang merupakan saingan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini mengindikasikan arti penting jalur ini.