Kebudayaan Pencak Silat





Pencak silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara. Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau. Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
            Banten yang namanya sangat dikenal untuk ilmu silatnya juga penyebarannya tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Tidak heran banyak nama dari jurus dan gerakan perguruan silat asli Banten diambil dari aksara dan bahasa arab. Pencak silat Banten mulai dikenal seiring dengan berdirinya kerajaan Islam Banten yang didirikan pada abad 15 masehi dengan raja pertamanya Sultan Hasanudin. Perkembangan pencak silat pada saat itu tidak terlepas dari dijadikannya silat sebagai alat untuk penggemblengan para prajurit kerajaan sebagai bekal ketangkasan bela negara yang diajarkan oleh para guru silat yang mengusasai berbagai aliran. Silat juga sebagai dasar alat pertahanan kerajaan dan masyarakat umum Banten dalam memerangi kolonialisme para penjajah.
Pada saat ini pun Banten masih dikenal dan diakui secara luas dengan pendekar dan jawaranya, sebutan untuk orang-orang yang mahir dalam ilmu silat.

Perbedaan Ideologi Pendidikan dengan Filsafat Pendidikan

Perbedaan Ideologi Pendidikan dengan Filsafat Pendidikan :

  1. Ideologi Pendidikan adalah kumpulan gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-      kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang berorientasi pada pendidikan.
  2. Filsafat pendidikan adalah aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memajukan sistem pendidikan.

Perbedaan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan :
1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara Pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori- teori pendidikannya, disamping menggunakan metode- metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagi pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek, misalnya filsafat idelisme, realisme, materialisme dan sebaginya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori- teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori- teori pendidikan yang di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori- teori dan pandangan- pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan airan filsafat yang dianutnya.
2. Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula. Dengan kata lain filsafat pendidikan adalah petunjuk, sedangkan teori pendidikan adalah sesuatu yang melaksanakan petunjuk.

EPISTIMOLOGI ILMU

Epistemology atau teori pengetahuan, Epstemologi berasal dari bahasa Yunani “episteme” dan “logos”. Episteme artinya pengetahuan, logos artinya teori. Dengan demikian epistemology secara etimologis berarti teori pengetahuan. Epistemologi memang merupakan bagian filsafat yang mempersoalkan berbagai pengertian, seperti mengetahui, pengetahuan ,kepastian, dan kebenaran pengetahuan.

Jadi epistimologi adalah suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas, validitas dan hakekat pengetahuan. Epistimologi meliputi berbagai sarana dan tata cara menggunakan sarana dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran dan kenyataan. Perbedaan dalam pemilihan asumsi ontologi dengan sendirinya akan mengakibatkan perbedaan sarana yang akan dipergunakan, yaitu akal, pengetahuan, intuisi, dan lain-lain.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.

Pengetahuan ilmiah mempunyai 5 (lima) ciri pokok sebagai berikut :

  1. Empiris adalah  Pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengematan dan percobaan.
  2. Sistematis adalah  Berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
  3. Objektif adalah Ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi.
  4. Analitis adalah Pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu.
  5. Verifikatif itu  Dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.

Hubungan Filsafat dengan Ilmu

Filsafat adalah induk atau ibu dari segala macam jenis, bentuk, dan sifat ilmu pengetahuan. Keangkuhan atau egoisme keilmuan tersebut bukanlah tanpa sebab. Dalam sejarah kemunculannya, semula karena filsafat dan ilmu tak pernah dibedakan. Satu-satunya ilmu pengetahuan pada saat itu hanya filsafat.
Meskipun secara historis antara filsafat dan ilmu pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia. Kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan  keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasi satu dari lainnya melainkan agar lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks memahami khazanah intelektual manusia.
Ada kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara filsafat dan ilmu karena terdapat  persamaan sekaligus perbedaan antara keduanya.
Persamaan antara filsafat dan ilmu adalah bahwa keduanya menggunaka kekuatan berfikir dalam upaya menghadapi atau memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan. Terhadap hal-hal tersebut, baik filsafat maupun ilmu bersikap dan berfikiran terbuka serta sangat konsen pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisir dan sistematis.
Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan sterssing atau titik tekan. Filsat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang, pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan  antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji hubungna antara temuan-temuan ilmu dengan klaim agama, moral serta seni. Sedangkan ilmu mengkaji bidang yang terbatas dan spesifik, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi dan eksperimen, serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut.
Dari adanya persamaan dan perbedaan diatas maka dapat diambil hubungan keduanya. Secara eksplisit relasi antara filsafat dan ilmu oleh Will Durant diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri.  Pasukan infanteri inlah yang membelah gunung dan merambah hutan. Ini artinya bahwa pasukan marinir adalah filsafat sebagai pioneer yang menemukan sesuatu dan tempat berpijak bagi ilmu dan setelah sesuatu itu ditemukan, pengelolaannya diserahkan kepada ilmu.

Sumber :
Jujun S. Suria Sumantri, Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer), Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003


Filsafat Sofisme?

Sofisme berasal dari kata sofis yang berarti cerdik, pandai. Namun kemudian berkembang artinya menjadi bersilat lidah. Sebab kaum sofis menyampaikan filsafatnya dengan berkeliling ke kota kota dan ke pasar pasar. Para pemuda dilatih kemahiran berdebat dan berpidato.  Kepandaian itu untuk mempertahankan apa yang dianggap benar.
Pokok pokok ajaran kaum sofis sebagai berikut:
  1. Manusia menjadi ukuran segala galanya.
  2. Kebenaran umum (mutlak)  tidak ada.
  3. Kebenaran hanya berlaku sementara.
  4. Kebenaran tidak terdapat pada diri sendiri.
Sofisme tergolong aliran relativisme. Ajaran sofisme memiliki pengaruh positif waktu itu, yaitu melahirkan banyak orang terampil berpidato. Disamping itu akal manusia dihargai. Akan tetapi segi negatifnya, ajaran ini menjadikan orang tidak bertanggung jawab atas ucapan ucapannya, sebab apa yang dikatakan hari ini untuk sesuatu, bisa saja untuk hari besoknya berlainan dengan dalih bahwa kebenaran hanyalah berlaku sementara.
Hippias adalah seorang tokoh lain dari filosof sofisme. Ia adalah seorang sofis yang terkemuka dan luas pengalamannya, sering mengadakan perjalanan dan senang memberikan pidato pidato di olimpia. Ia memiliki pengetahuan luas meliputi ilmu pasti astronomi, tata bahasa, mythologi, kesusastraan dan sejarah, sehingga dapat dikatakan bahwa dia adalah satu tipe seorang sarjana terpelajar dari zaman hellenistis yang berpengetahuan polyhisioria. Dia adalah seorang sofis murni yang beranggapan bahwa pengetahuan harus dikembangkan kepada orang lain.


Metodologi Filsafat

Metode mempelajari filsafat ada 3 yaitu :
  1.  Metode sistematis
  2.  Metode historis
  3.  Metode kritis
Belajar dengan metode siatenatis, dimulai dengan banyak membaca buku fiksafat, memahami pengertiannya, objek yang di jaki sistematika filsafat, makna ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Belajar dengan metode historis adalah memoelajaru sejarah filsafat, seluk beluk dan kelahirannya. Filsafat di yunani dan barat, filsafat di dunia dan kalangan filosof muslim, filsafat kristiani, dan semua yang berbau sejarah di pelajari secara mendalam. Mempelajari tokoh demi tokoh, pikiran pikirannya, para pengikutnya, pengaruh filsafatnyabterhadap dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan dan biografi para filosof hingga cerita kematiannya. Semua digali dengan seserius mungkin, apa yangbterjadi dengan filsafat klasik apa dan bagaimana eksistensi filsafat pada abad pertengahan, bagaimana filsafat dewasa ini. Semua yang berbau sejarah dikumpulkan, dibaca, di hafalkan, dipahami, dan jika mampu dianalisis.
Mempelajari filsafat dengan metode kritis, untuk tingkat tinggi. Dapat dilakukan untuk lebih hebat. Metode ini mulai melibatkan penalaran yabg kontemplatif dan radikal, bahkan pemikiran pada filosof bukan sekedar dipahami, melainkan dikritisi.
Menurut Juhaya S.  Pradja metodologi filsafat ada 3,yakni:
  1. Metode deduksi yakni suatu metode berpikir yang menarik kesimpilan dari prinsip prinsip umum kemudian diterapkan pada sesuatu yang bersifat khusus.
  2. Metode induksi, metode berpikir dalam menarik kesimpulan dari prinsip khusus kemudia diterapkan pada sesuatu yang bersifat umum
  3. Metode dialektika yakni metode berpikir yang menarik kesimpulan melalui 3tahap atau jenjang, yakni tesis, antitesis, dan sintesis.

Apa Itu Filsafat ?

Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos berarti suka, cinta, atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian, secara sederhana, filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan.
Ada beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut:
   1.   Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
   2.   Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
   3.   Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
   4.   Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme.
  5.   Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.


Sumber :
Mustansyir, Rizal.2008.Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rabu, 07 Desember 2016

Kebudayaan Pencak Silat

Diposting oleh Unknown di 22.11 0 komentar




Pencak silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara. Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau. Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
            Banten yang namanya sangat dikenal untuk ilmu silatnya juga penyebarannya tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Tidak heran banyak nama dari jurus dan gerakan perguruan silat asli Banten diambil dari aksara dan bahasa arab. Pencak silat Banten mulai dikenal seiring dengan berdirinya kerajaan Islam Banten yang didirikan pada abad 15 masehi dengan raja pertamanya Sultan Hasanudin. Perkembangan pencak silat pada saat itu tidak terlepas dari dijadikannya silat sebagai alat untuk penggemblengan para prajurit kerajaan sebagai bekal ketangkasan bela negara yang diajarkan oleh para guru silat yang mengusasai berbagai aliran. Silat juga sebagai dasar alat pertahanan kerajaan dan masyarakat umum Banten dalam memerangi kolonialisme para penjajah.
Pada saat ini pun Banten masih dikenal dan diakui secara luas dengan pendekar dan jawaranya, sebutan untuk orang-orang yang mahir dalam ilmu silat.

Perbedaan Ideologi Pendidikan dengan Filsafat Pendidikan

Diposting oleh Unknown di 10.42 0 komentar
Perbedaan Ideologi Pendidikan dengan Filsafat Pendidikan :

  1. Ideologi Pendidikan adalah kumpulan gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-      kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang berorientasi pada pendidikan.
  2. Filsafat pendidikan adalah aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memajukan sistem pendidikan.

Perbedaan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan :
1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara Pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori- teori pendidikannya, disamping menggunakan metode- metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagi pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek, misalnya filsafat idelisme, realisme, materialisme dan sebaginya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori- teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori- teori pendidikan yang di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori- teori dan pandangan- pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan airan filsafat yang dianutnya.
2. Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula. Dengan kata lain filsafat pendidikan adalah petunjuk, sedangkan teori pendidikan adalah sesuatu yang melaksanakan petunjuk.

EPISTIMOLOGI ILMU

Diposting oleh Unknown di 10.36 0 komentar
Epistemology atau teori pengetahuan, Epstemologi berasal dari bahasa Yunani “episteme” dan “logos”. Episteme artinya pengetahuan, logos artinya teori. Dengan demikian epistemology secara etimologis berarti teori pengetahuan. Epistemologi memang merupakan bagian filsafat yang mempersoalkan berbagai pengertian, seperti mengetahui, pengetahuan ,kepastian, dan kebenaran pengetahuan.

Jadi epistimologi adalah suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas, validitas dan hakekat pengetahuan. Epistimologi meliputi berbagai sarana dan tata cara menggunakan sarana dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran dan kenyataan. Perbedaan dalam pemilihan asumsi ontologi dengan sendirinya akan mengakibatkan perbedaan sarana yang akan dipergunakan, yaitu akal, pengetahuan, intuisi, dan lain-lain.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.

Pengetahuan ilmiah mempunyai 5 (lima) ciri pokok sebagai berikut :

  1. Empiris adalah  Pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengematan dan percobaan.
  2. Sistematis adalah  Berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
  3. Objektif adalah Ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi.
  4. Analitis adalah Pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu.
  5. Verifikatif itu  Dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.

Hubungan Filsafat dengan Ilmu

Diposting oleh Unknown di 09.57 0 komentar
Filsafat adalah induk atau ibu dari segala macam jenis, bentuk, dan sifat ilmu pengetahuan. Keangkuhan atau egoisme keilmuan tersebut bukanlah tanpa sebab. Dalam sejarah kemunculannya, semula karena filsafat dan ilmu tak pernah dibedakan. Satu-satunya ilmu pengetahuan pada saat itu hanya filsafat.
Meskipun secara historis antara filsafat dan ilmu pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia. Kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan  keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasi satu dari lainnya melainkan agar lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks memahami khazanah intelektual manusia.
Ada kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara filsafat dan ilmu karena terdapat  persamaan sekaligus perbedaan antara keduanya.
Persamaan antara filsafat dan ilmu adalah bahwa keduanya menggunaka kekuatan berfikir dalam upaya menghadapi atau memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan. Terhadap hal-hal tersebut, baik filsafat maupun ilmu bersikap dan berfikiran terbuka serta sangat konsen pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisir dan sistematis.
Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan sterssing atau titik tekan. Filsat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang, pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan  antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji hubungna antara temuan-temuan ilmu dengan klaim agama, moral serta seni. Sedangkan ilmu mengkaji bidang yang terbatas dan spesifik, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi dan eksperimen, serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut.
Dari adanya persamaan dan perbedaan diatas maka dapat diambil hubungan keduanya. Secara eksplisit relasi antara filsafat dan ilmu oleh Will Durant diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri.  Pasukan infanteri inlah yang membelah gunung dan merambah hutan. Ini artinya bahwa pasukan marinir adalah filsafat sebagai pioneer yang menemukan sesuatu dan tempat berpijak bagi ilmu dan setelah sesuatu itu ditemukan, pengelolaannya diserahkan kepada ilmu.

Sumber :
Jujun S. Suria Sumantri, Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer), Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003


Filsafat Sofisme?

Diposting oleh Unknown di 09.44 0 komentar
Sofisme berasal dari kata sofis yang berarti cerdik, pandai. Namun kemudian berkembang artinya menjadi bersilat lidah. Sebab kaum sofis menyampaikan filsafatnya dengan berkeliling ke kota kota dan ke pasar pasar. Para pemuda dilatih kemahiran berdebat dan berpidato.  Kepandaian itu untuk mempertahankan apa yang dianggap benar.
Pokok pokok ajaran kaum sofis sebagai berikut:
  1. Manusia menjadi ukuran segala galanya.
  2. Kebenaran umum (mutlak)  tidak ada.
  3. Kebenaran hanya berlaku sementara.
  4. Kebenaran tidak terdapat pada diri sendiri.
Sofisme tergolong aliran relativisme. Ajaran sofisme memiliki pengaruh positif waktu itu, yaitu melahirkan banyak orang terampil berpidato. Disamping itu akal manusia dihargai. Akan tetapi segi negatifnya, ajaran ini menjadikan orang tidak bertanggung jawab atas ucapan ucapannya, sebab apa yang dikatakan hari ini untuk sesuatu, bisa saja untuk hari besoknya berlainan dengan dalih bahwa kebenaran hanyalah berlaku sementara.
Hippias adalah seorang tokoh lain dari filosof sofisme. Ia adalah seorang sofis yang terkemuka dan luas pengalamannya, sering mengadakan perjalanan dan senang memberikan pidato pidato di olimpia. Ia memiliki pengetahuan luas meliputi ilmu pasti astronomi, tata bahasa, mythologi, kesusastraan dan sejarah, sehingga dapat dikatakan bahwa dia adalah satu tipe seorang sarjana terpelajar dari zaman hellenistis yang berpengetahuan polyhisioria. Dia adalah seorang sofis murni yang beranggapan bahwa pengetahuan harus dikembangkan kepada orang lain.


Metodologi Filsafat

Diposting oleh Unknown di 09.30 0 komentar
Metode mempelajari filsafat ada 3 yaitu :
  1.  Metode sistematis
  2.  Metode historis
  3.  Metode kritis
Belajar dengan metode siatenatis, dimulai dengan banyak membaca buku fiksafat, memahami pengertiannya, objek yang di jaki sistematika filsafat, makna ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Belajar dengan metode historis adalah memoelajaru sejarah filsafat, seluk beluk dan kelahirannya. Filsafat di yunani dan barat, filsafat di dunia dan kalangan filosof muslim, filsafat kristiani, dan semua yang berbau sejarah di pelajari secara mendalam. Mempelajari tokoh demi tokoh, pikiran pikirannya, para pengikutnya, pengaruh filsafatnyabterhadap dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan dan biografi para filosof hingga cerita kematiannya. Semua digali dengan seserius mungkin, apa yangbterjadi dengan filsafat klasik apa dan bagaimana eksistensi filsafat pada abad pertengahan, bagaimana filsafat dewasa ini. Semua yang berbau sejarah dikumpulkan, dibaca, di hafalkan, dipahami, dan jika mampu dianalisis.
Mempelajari filsafat dengan metode kritis, untuk tingkat tinggi. Dapat dilakukan untuk lebih hebat. Metode ini mulai melibatkan penalaran yabg kontemplatif dan radikal, bahkan pemikiran pada filosof bukan sekedar dipahami, melainkan dikritisi.
Menurut Juhaya S.  Pradja metodologi filsafat ada 3,yakni:
  1. Metode deduksi yakni suatu metode berpikir yang menarik kesimpilan dari prinsip prinsip umum kemudian diterapkan pada sesuatu yang bersifat khusus.
  2. Metode induksi, metode berpikir dalam menarik kesimpulan dari prinsip khusus kemudia diterapkan pada sesuatu yang bersifat umum
  3. Metode dialektika yakni metode berpikir yang menarik kesimpulan melalui 3tahap atau jenjang, yakni tesis, antitesis, dan sintesis.

Minggu, 04 Desember 2016

Apa Itu Filsafat ?

Diposting oleh Unknown di 22.25 0 komentar
Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos berarti suka, cinta, atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian, secara sederhana, filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan.
Ada beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut:
   1.   Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
   2.   Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
   3.   Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
   4.   Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme.
  5.   Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.


Sumber :
Mustansyir, Rizal.2008.Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.